Kematian Ulises Lima

Oleh: Roberto Bolaño

Belano, Arturo Belano[1] kita, kembali ke Mexico City. Sudah lebih dari dua puluh tahun sejak kepergiannya yang terakhir. Pesawat yang ditumpanginya melayang di atas kota dan ia tersentak bangun. Kegelisahan yang menekannya sepanjang penerbangan itu terasa semakin kuat. Dari bandara di Mexico City, ia masih harus melanjutkan perjalanan ke Guadalajara, yaitu kota tempat Pameran Buku yang mengundangnya diselenggarakan. Sekarang Belano adalah penulis yang lumayan beken dan kerap diundang ke acara-acara internasional, tapi ia jarang memenuhi undangan-undangan itu. Inilah kunjungan pertamanya ke Meksiko dalam lebih dari dua puluh tahun belakangan. Setahun yang lalu ia mendapat dua undangan dan berubah pikiran pada menit terakhir. Tahun sebelumnya ia memperoleh empat undangan dan berubah pikiran pada menit terakhir. Aku tidak ingat berapa banyak undangan yang diterimanya tiga tahun silam dan batal dia hadiri karena pikirannya berubah pada menit terakhir. Namun, kini ia berada di Meksiko, di bandar udara Mexico City, dan sedang mengekor rombongan yang sama sekali tak dikenalnya menuju zona transit untuk penerbangan ke Guadalajara. Koridor itu berujung pada sebuah labirin kaca. Belano berada di posisi bontot dalam barisan itu. Langkahnya terus melambat serta penuh keraguan. Di ruang tunggu, ia mengenali seorang penulis muda Argentina yang juga hendak ke Guadalajara, lalu cepat-cepat bersembunyi di balik tiang. Orang Argentina itu membaca koran yang halaman kebudayaannya (mungkin halaman itulah yang sedang dia baca) sepenuhnya membahas Pameran Buku. Tak lama kemudian laki-laki itu mendongak dan menyapukan pandangannya ke sekitar seolah-olah sadar bahwa dirinya sedang diamati, tapi ia tidak melihat Belano, lalu tatapannya kembali terarah ke koran. Waktu berlalu dan seorang perempuan yang amat cantik menghampiri orang Argentina itu dari belakang dan menciumnya. Belano kenal perempuan itu, ia orang Meksiko kelahiran Guadalajara. Pria Argentina dan perempuan Meksiko itu tinggal serumah di Barcelona dan Belano adalah teman mereka. Kedua orang itu bercakap-cakap. Lalu, entah bagaimana, mereka sepertinya sadar sedang diawasi. Belano membaca gerak bibir mereka, tetapi tidak menangkap apa-apa. Ia bercokol di persembunyiannya sampai pasangan itu pergi. Sewaktu ia meninggalkan tempat itu, barisan penumpang pesawat tujuan Guadalajara telah raib, dan ia sadar, diiringi perasaan lega yang mendalam, bahwa ia tidak kepengin pergi ke Guadalajara dan menghadiri Pameran Buku; bahwa sebenarnya yang ia inginkan adalah tinggal sejenak di Mexico City. Dan akhirnya memang itulah yang dia lakukan. Ia berjalan ke gerbang. Paspornya diperiksa dan tak lama kemudian ia sudah berada di luar, mencari taksi.

Pulang ke Meksiko, pikirnya.

Sopir taksi yang ditumpanginya melihat dia seakan-akan mereka adalah kenalan lama. Belano pernah mendengar cerita-cerita tentang sopir-sopir taksi Mexico City dan penjabalan di kawasan bandara. Tapi semua cerita itu kini menguap. “Mau kemana kita, Anak Muda?” tanya si sopir yang sebetulnya lebih muda ketimbang Belano. Belano menyebutkan alamat terakhir Ulises Lima yang ia ketahui. “OK,” kata sopir, dan taksi menjauh dari bandara dan mencelupkan diri ke kota. Belano memejamkan matanya, sebagaimana biasa dia lakukan ketika masih tinggal disini, namun sekarang ia benar-benar lelah sehingga matanya segera terbuka kembali, dan kota lama Belano, kota masa remajanya, menampilkan diri secara cuma-cuma. Tidak ada yang berubah, pikirnya, sekalipun dia tahu segalanya telah berubah.

Di luar, pagi menyerupai pemakaman. Langit berwarna kuning kotor. Awan-awan bergerak dari selatan ke utara, tampak seperti kuburan-kuburan yang mengapung; sesekali mereka berpisah dan menyingkapkan keping-keping langit yang kelabu, kadang mereka bertabrakan dan menimbulkan gemeretak kering yang tak terdengar oleh seorang pun, bahkan oleh Belano yang jadi sakit kepala karenanya, sebagaimana halnya dulu sewaktu ia masih remaja dan tinggal di Colonia Lindavista atau Colonia Guadalupe-Tepeyac.

Orang-orang yang berjalan di trotoar tidak berubah; mereka lebih muda, mereka bahkan mungkin belum lahir ketika ia pergi, tapi pada dasarnya wajah-wajah itulah yang dilihatnya pada 1968, pada 1974, pada 1976. Sopir taksi mengajaknya bercakap-cakap dan ia malas menanggapi. Saat matanya terpejam lagi, Belano melihat taksi yang ditumpanginya melaju dalam kecepatan penuh di sebuah jalan yang sibuk, sementara para perampok memberhentikan taksi-taksi lain dan para penumpangnya tewas dengan air muka penuh kengerian. Polah dan kata-kata yang samar-samar terasa akrab. Rasa takut. Lalu Belano tidak melihat apa-apa lagi dan jatuh terlelap bagaikan sebutir batu meluncur ke dasar sumur.

“Kita sudah sampai,” kata sopir taksi.

Belano melihat-lihat dari balik jendela. Mereka berada di jalan dekat tempat tinggal Ulises Lima. Ia membayar dan turun. “Apa ini pertama kalinya kau ke Meksiko?” tanya si sopir. “Tidak, aku pernah tinggal di sini.” “Kau orang Meksiko?” sopir itu bertanya lagi sambil menyorongkan uang kembalian. “Kurang lebih begitulah,” kata Belano.

Dan ia berdiri sendirian di tepi jalan, memandangi muka bangunan.

Rambut Belano dipotong pendek. Pitak kecil yang mirip tonsur[2] membuat kulit ubun-ubunnya kelihatan. Ia bukan lagi pemuda gondrong yang sekali waktu berkeliaran di jalan-jalan ini. Sekarang ia mengenakan jaket kulit hitam dan pantalon abu-abu dan kemeja putih dan sepasang sepatu Martinelli. Ia diundang ke Meksiko untuk ambil bagian dalam kongres penulis-penulis Amerika Latin. Sekurangnya dua temannya juga diundang ke acara tersebut. Buku-bukunya dibaca (sedikit) di Spanyol dan seantero Amerika Latin dan telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa. Apa yang kulakukan di sini? pikirnya.

Ia berjalan menuju pintu. Ia merogoh buku alamatnya. Ia menekan buzzer apartemen Ulises Lima. Tiga buzz panjang. Tak ada jawaban. Ia menekan buzzer apartemen lain. Seorang perempuan menanyakan siapa dia. “Aku kawan Ulises Lima,” jawab Belano. Perempuan itu seketika menutup sambungan. Ia menekan buzzer apartemen lain lagi. Seorang pria berteriak: “Siapa?” “Teman Ulises Lima,” kata Belano, dan ia merasa semua ini semakin menggelikan. Pintu terbuka bersamaan dengan bunyi klik mesin dan Belano mulai menaiki tangga ke lantai tiga. Setibanya di ujung, keringat Belano bercucuran. Di hadapannya ada tiga buah pintu dan sebuah lorong remang-remang yang panjang. Di sinilah Ulises Lima menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya, pikir Belano, namun ketika ia menekan bel, timbul harapan tak masuk akal dalam dirinya untuk mendengar bunyi langkah sahabatnya yang mendekat dan kemudian melihat wajahnya yang tersenyum di antara celah pintu yang terbuka.

Tidak ada jawaban.

Belano kembali ke tangga dan turun. Ia berhasil menemukan hotel tanpa harus meninggalkan Colonia Cuauhtemoc. Ia duduk di tempat tidur lama sekali, menonton televisi Meksiko dan membiarkan pikirannya hampa. Tidak satu acara pun dikenalnya, tapi ia merasa acara-acara lama telah menyusup ke dalam acara-acara baru, dan rasa-rasanya ia bisa melihat tampang El Loco Valdes di layar atau mendengar suaranya. Lalu, sewaktu berselancar mengganti-ganti kanal, ia menemukan sebuah film Tin-Tan dan menontonnya sampai rampung. Tin-Tan adalah kakak El Loco. Ia sudah mati waktu dulu Belano datang untuk tinggal di Meksiko. Mungkin sekarang El Loco Valdes juga sudah mati. Belano mandi setelah film berakhir, dan kemudian, tanpa menghanduki tubuhnya terlebih dahulu, ia menelepon salah seorang teman lama. Tidak ada orang di rumah yang dituju. Hanya mesin penjawab, tapi ia tidak ingin meninggalkan pesan.

Ia mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. Ia berpakaian. Ia berjalan ke tepi jendela dan melihat-lihat Calle Rio Panuco. Ia tidak melihat orang atau mobil-mobil atau pohon-pohon, cuma lapangan konblok abu-abu dan kerangka jendela yang seakan-akan tak terkena waktu. Kemudian ia melihat seorang bocah laki-laki berjalan di trotoar (dari arah yang berlawanan dengannya) bersama seorang perempuan muda yang mungkin kakak perempuan atau ibu bocah itu. Belano memejamkan matanya.

Ia tidak lapar, ia tidak mengantuk, ia tidak ingin keluar. Maka ia kembali duduk di tempat tidur dan lanjut menonton televisi, merokok sambung-menyambung sampai batangan terakhir. Lalu ia mengenakan jaket kulit hitamnya dan turun ke jalan.

Sebagaimana lagu-lagu populer terus berulang di dalam kepalamu tanpa bisa kau tahan, Belano tak sanggup menahan dirinya untuk tidak kembali ke apartemen Ulises Lima.

Matahari mulai terbenam ke tepian Mexico City ketika, setelah serangkaian upaya yang gagal, Belano berhasil membujuk seseorang untuk mengizinkannya masuk ke bangunan itu. Aku pasti sudah hampir gila, pikirnya sewaktu ia menaiki tangga, dua anak tangga dalam setiap langkah, dan itu bukan karena ketinggian, bukan pula karena aku belum makan atau bahwa aku sendirian di Mexico City. Untuk beberapa detik yang, dengan cara tertentu, menggembirakan dan terasa tak berujung, Belano hanya berdiri di hadapan pintu kamar Ulises Lima. Lalu ia menekan bel tiga kali. Saat ia berbalik dengan maksud kembali meninggalkan bangunan itu (meski bukan untuk terakhir kali, ia tahu itu), pintu apartemen sebelah terbuka dan muncullah sebongkah kepala gundul besar tembaga yang samar-samar terlihat dihiasi oleh cipratan cat merah (seakan-akan si pemilik kepala itu baru saja mengecat tembok atau langit-langit). Kepala itu menanyakan siapa yang dicari oleh Belano.

Pada mulanya Belano tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu percuma mengaku bahwa dia mencari Ulises Lima dan ia juga tidak mau mengarang-ngarang alasan, jadi ia diam dan sekadar memandangi lawan bicaranya: kepala seorang pemuda yang kemungkinan besar berumur tak lebih dari dua puluh lima tahun dan, berdasarkan airmukanya, Belano menduga bahwa ia sedang kesal atau hidup dalam keadaan kesal permanen. “Tempat itu kosong,” ujar si pemuda. “Aku tahu,” kata Belano. “Jadi kenapa kau pencet belnya, idiot?” tanya si pemuda. Belano menatap matanya dan tidak mengatakan apa-apa. Pintu terbuka sepenuhnya dan si plontos itu melangkah ke lorong. Ia tambun dan pakaiannya cuma jins gombor yang bergantung pada sehelai ikat pinggang tua. Gespernya, sebagian tersembunyi di balik perut si pemuda, berukuran besar dan terbuat dari logam. Mungkinkah dia keluar untuk menghajarku? pikir Belano. Untuk sesaat mereka hanya saling pelotot. Tokoh kita Arturo Belano, pembaca sekalian, kini berumur empat puluh enam tahun, dan sebagaimana kalian ketahui, atau semestinya kalian ketahui, liver, pankreas, dan bahkan usus besarnya sudah ringsek belaka. Tetapi ia masih ingat cara bakupukul dan sedang memperkirakan kemampuan sosok berukuran amat besar di hadapannya. Semasa tinggal di Meksiko ia terlibat dalam banyak perkelahian dan tidak pernah kalah, sekalipun kini itu semua tak patut dijadikan patokan. Sekadar pertengkaran di halaman sekolah dan kedai-kedai minum. Belano memandangi si tambun, berpikir kapan sebaiknya ia menyerang, kapan saatnya menjotos dan di mana. Tapi pria itu hanya menatap Belano dan kemudian melongok ke dalam apartemennya, lalu seorang pemuda lain ikut keluar. Pemuda itu mengenakan sweatshirt bergambar tiga orang pria dalam pose bergajulan di tengah jalan yang dipenuhi sampah, ditambah tulisan Los Amos del Barrio[3] dalam huruf-huruf merah di atasnya.

Sejenak Belano tersihir oleh desain tersebut. Sepertinya ia kenal orang-orang mengenaskan di dalam gambar itu. Atau mungkin tidak. Mungkin yang dikenalnya cuma jalan tempat mereka berfoto. Aku pernah di sana, bertahun-tahun yang lalu, pikirnya, bertahun-tahun yang lalu aku berjalan-jalan di sana, dengan segenggam penuh waktu dalam tiap-tiap kepalanku, tanpa tujuan.

Laki-laki berpakaian sweatshirt yang hampir sama gemuk dengan kawannya bertanya kepada Belano dengan suara yang serupa bunyi air mendidih. Belano tidak paham. Tapi dia yain itu bukanlah pertanyaan agresif. “Apa?” tanyanya. “Apakah kau penggemar Los Amos del Barrio?” ulang si pemuda.

Belano tersenyum. “Tidak, aku bukan orang sini,” katanya.

Lalu si gendut nomor dua terdorong ke samping dan si gendut nomor tiga pun muncul; kulitnya seperti arang, mungkin dia jenis orang gendut berkumis mungil keturunan Aztec. Ia bertanya kepada teman-teman sekamarnya apa yang terjadi. Tiga lawan satu, pikir Belano, waktunya pergi. Si gendut berkumis kecil menatap Belano dan menanyakan tujuannya. “Si Keple ini memencet bel apartemen Ulises Lima,” kata si gendut yang bertelanjang dada. “Kau kenal Ulises Lima?” tanya si gendut berkumis. “Ya,” jawab Belano, “aku temannya.” “Dan siapa namamu, bajingan?” tanya si gendut yang mengenakan sweatshirt. Arturo Belano menyebutkan namanya dan menambahkan bahwa ia sudah hendak pergi, juga bahwa ia menyesal telah mengganggu mereka, tetapi sekarang ketiga pria gendut itu malah tampak benar-benar tertarik padanya, tiba-tiba mereka memandangnya dengan cara yang berbeda, dan si gendut nomor dua tersenyum dan berkata: “Jangan bohong, ah, tak mungkin namamu Arturo Belano,” tapi dari caranya mengucapkan kalimat tersebut, Belano tahu bahwa sekalipun belum yakin, dia ingin percaya bahwa yang didengarnya adalah sebuah kebenaran.

Kemudian Belano melihat dirinya sendiri—seolah-olah sedang menonton film, sebuah film yang kelewat sedih sehingga ia tidak akan pernah mau menontonnya—berada di apartemen pria-pria gemuk itu dan sedang ditawari bir oleh tuan rumah. “Tidak, terima kasih, aku sudah tidak minum,” ujarnya. Ia duduk di kursi berlengan yang sudah reyot, kain pelapisnya butek dan bergambar bunga-bunga layu, sambil menggenggam segelas air yang ia tak sanggup meminumnya, karena air di Mexico City, menurut sejumlah peringatan yang didapatnya, dan sebetulnya sudah dia ketahui sejak dulu, bisa membuatmu terjangkit gastroenteritis, sementara ketiga orang gendut itu duduk mengelilinginya di kursi-kursi lain, kecuali si telanjang dada yang duduk di lantai seolah-olah ia takut mematahkan kursi atau takut pada reaksi teman-temannya seandainya hal itu benar-benar terjadi.

Si gendut tak berbaju ini bertingkah seperti budak, pikir Belano.

Dan yang terjadi setelahnya kacau dan sentimental belaka: orang-orang itu memberitahu Belano bahwa merekalah murid-murid terakhir Ulises (itulah kata yang mereka pakai: murid). Mereka bercerita tentang kematian sang guru, bagaimana ia tergilas Impala hitam, dan mereka berbicara tentang hidupnya, serangkaian adu minum yang legendaris, seolah bar-bar dan tempat-tempat Ulises Lima teler dan memuntahkan isi jeroan adalah rangkaian berjilid-jilid karya lengkapnya. Dan pemuda-pemuda tambun itu terutama bicara tentang diri mereka sendiri: mereka punya sebuah grup musik rock bernama El Ojete de Morelos[4] dan mereka tampil di kelab-kelab disko di pinggiran Mexico City. Mereka sudah menghasilkan sebuah album yang tak disentuh sama sekali oleh radio-radio resmi karena liriknya. Tapi stasiun-stasiun radio kecil memutar lagu-lagu mereka sepanjang hari. Kami mulai tenar, kata mereka, tapi kami tetaplah para pemberontak. Sesuai jalan Ulises Lima, kata mereka, api yang diwariskan Ulises Lima, puisi dari penyair terbesar Meksiko.

Lagu-lagu yang dimaksud pun akhirnya disetel, dan Belano duduk terpaku di kursinya, mendengarkan, mengempit gelas yang isinya belum ia minum sama sekali, memandangi lantai kotor dan dinding yang dipenuhi poster-poster Los Amos del Barrio dan El Ojete de Morelos dan grup-grup musik lain yang tak pernah didengarnya, barangkali kelompok-kelompok percobaan yang para anggotanya membentuk Los Amos dan El Ojete di kemudian hari: anak-anak muda Meksiko menatapnya dari dalam foto, atau mungkin neraka, sambil mengacungkan gitar-gitar listrik seakan sedang menghunuskan senjata, atau menggigil kedinginan.

Catatan:

[1] Karakter rekaan dalam sejumlah novel, novelet, dan cerita pendek karya Roberto Bolaño. Ia sering dianggap sebagai alter ego Bolaño karena kemiripan nama dan kesamaan usia, kewarganegaraan, serta detail-detail biografis lain di antara keduanya.

[2] Pencukuran atau hasil pencukuran sebagian atau seluruh rambut kepala untuk menandakan ketaatan relijius serta kerendahatian. Umum dilakukan oleh para padri Katolik pada abad pertengahan, biksu Buddhis, dan penganut sekte-sekte Hindu tertentu.

[3] “Para Penguasa Barrio”. Barrio berarti permukiman. Di negara-negara tertentu, Amerika Serikat, misalnya, barrio biasanya miskin dan kumuh, kurang-lebih sepadan dengan ghetto.

[4] “Burit Morelos.” Morelos mungkin diambil dari nama José María Teclo Morelos y Pavón, seorang kreol, padri Katolik, dan pemimpin kaum revolusioner yang mengobarkan Perang Kemerdekaan Meksiko. Untuk menghormati Morelos, nama kota kelahirannya, Valladolid, diganti menjadi Morelia. Demikian pula dengan negara bagian Morelos yang beribukota di Cuernavaca.

*Diterjemahkan oleh Dea Anugrah dari “Death of Ulises”, The Secret of Evil (2011, New Directions) karya Roberto Bolaño. Terjemahan bahasa Inggris oleh Chris Andrews dan Natasha Wimmer.

Advertisements

Adik

Mari kita pergi, kau dan aku
kalau nanti Papa mengeluarkanmu dari gudang
dan aku, dari kandang ayam

1) Ubi kayu harus dipanggang bersama kulitnya
2) Mama menaruh ketapelmu di atas pintu
3) …

Genangan tak terbuat dari hujan
ia tumbuh dari tanah
dan kembali ke tanah

dan rangka rumah ini
akan jadi unggunan api

mengusir kegelapan
dari jalanmu

dari jalanmu.

Reportase

Hanya kaktus dalam pot
di atas pagar balkon
dan celana pendek
terjulai dari paku

Hanya kasur cekung
mirip bekas galian
dan kerak abu rokok
pada seprai biru luntur

Hanya buku-buku, kuning
dan melengkung,
dalam koper Polo
dan kardus-kardus lapuk

Sebuah kursi kayu
patah kaki
terbaring di lantai

putih, terlampau putih

“Boleh pegang,”
kata seorang polisi,
“asal jangan kaupindahkan.”

Terbenam dalam Waktu yang Hilang

Kalian tiba di Stasiun Jatibarang, Indramayu, menjelang pukul sepuluh pagi. Langit seperti kertas buram. Udara kering dan panas. Debu naik dan turun dan membungkus apa saja yang dapat dijangkaunya: barisan sepeda motor di lapangan parkir, mentimun yang menyembul dari karung-karung di pasar di seberang stasiun, manusia yang berlalu-lalang, daun-daun.

Dua pria dengan muka kepuh menghampiri kalian. Salah seorang dari mereka, yang berbadan kecil, gondrong, dan punya borok di kupingnya, sampai lebih dulu. Ia mengembuskan asap rokok lewat celah lebar di antara dua gigi taringnya. Seorang lagi, yang jangkung dan mengenakan jaket kulit, mendekati kalian sambil merogoh saku belakangnya.

Kau melap keringat di keningmu, lalu menggeser kaki kananmu ke belakang.

“Kalau kemarin kau tidak menawarkan diri buat ikut,” katamu kepada Arlian, “aku mau membawa pisau sebesar lengan anak-anak.”

Pria berjaket kulit itu berhenti dan menyisir rambut. “Ojek, Mas?” tanyanya. Dan kawannya, yang kelak akan diceritakan oleh Arlian, cuma prengas-prenges.

Rupa-rupa pemandangan berlintasan, tetapi kau hanya bisa melamunkan apa-apa yang kau mungkin tuliskan tentang Pulau Biawak, tempat tujuanmu, sampai bau asin payau, tanda bahwa laut sudah dekat, menyadarkanmu tiga puluh menit kemudian.

Setelah makan siang dan menimbun bekal dan membikin janji dengan kedua tukang ojek untuk menggunakan jasa mereka lagi saat kalian kembali ke Indramayu, kalian berangkat dari Pelabuhan Karangsong. Jam menunjukkan pukul dua. Nelayan yang mengantar kalian memberitahu bahwa di depan ada jalan air sejauh 41 kilometer dan pelayaran akan makan waktu selama empat jam.

“Mantap,” teriak Arlian sambil merentangkan tangannya. Rambutnya berkibar seperti samanera. Kau melindungi matamu dari sinar perak yang dipantulkan ombak Laut Jawa.

Empat jam di laut tanpa sinyal ponsel dan ketenangan yang diperlukan buat mengobrol atau membaca buku jelas tak menyediakan banyak pilihan. Arlian berbaring, terpejam, dan membiarkan kakinya yang melintang di atas dinding kanan perahu basah sebatas paha. Kau menggeser dudukmu ke tengah, berharap di tempat itu guncangan lebih jinak, dan mulai melamun lagi.

Kau pernah membaca tentang seorang Kaisar Jepang yang disingkirkan ke sebuah pulau terpencil pada abad ke-13. Sepanjang pelayarannya, kau kira, ia tak mengenang perebutan kuasa yang menjadi sebab pengusiran itu, melainkan kilasan-kilasan menyenangkan dari seluruh hidupnya: bunga-bunga yang mekar di halaman istana, anak panah pertamanya yang mencapai sasaran, surai kuda kesayangannya yang dikibas angin. Semua melintas, saling susul, berjalinan.

Memori, pikirmu, benar-benar menakjubkan. Tanpanya hidup seseorang cuma sekarang, dan sekarang kelewat sering tak tertanggungkan. Dengan ingatan, seseorang dapat memanggil kembali (atau dikunjungi oleh) saat-saat yang menenteramkan. Dengan ingatan, kau dapat mengabaikan pikiran-pikiran buruk (perahu ini bakal dihantam ombak besar sampai terbalik dan kau akan mati dan dimakan ikan-ikan, sedangkan teman-teman seperjalananmu berhasil menyelamatkan diri).

Ingatan membawamu ke sebuah ruang yang bersih, terang, penuh buku—jauh dari ombak yang membuat perahumu oleng ke sana kemari. Kau mendengar dengung halus mesin pendingin udara, bisik-bisik dua perempuan dari meja di belakangmu, bunyi kertas yang digores pena. Kau mencium bau mirip es krim vanila. Kursimu keras, tetapi kering dan hangat.

Ada buku terbuka di antara kedua tanganmu, sebuah novel. Peristiwa-peristiwa di dalamnya bergerak maju-mundur, dari momen ke momen, dan cerita bergerak dengan berayun pada sulur-sulur halus tema dan motif.

Waktu seakan tak berkesinambungan. Ingatan-ingatan penutur novel itu bermunculan secara acak, tiba-tiba, mengejutkan. (Suatu kali, ia menguraikan bagaimana ingatannya tentang kampung halaman—bunga-bunga taman, lili air, gereja paroki, orang-orang dusun yang ramah—bermekaran dari secangkir teh setelah ia mencelupkan sepotong kue kering ke dalamnya dan memakan kue itu).

Kau menjentikkan puntung rokokmu ke laut.

Dari jarak 100 meter, Pulau Biawak terlihat seperti hutan yang terapung. Mungkin karena itulah ia pernah dinamai Pulau Bompis (boompjes berarti pepohonan dalam bahasa Belanda). Di bagian mukanya ada sebuah dermaga beton yang dihinggapi puluhan camar putih, dan agak ke belakang, sebuah mercusuar menjulang sendirian, jauh lebih tinggi ketimbang pohon-pohon, dan tampak menggentarkan dalam lindungan kerangka baja.

Laut dangkal dan jernih. Terumbu karang dan ikan-ikan dengan pelbagai motif dan warna seakan-akan ditebarkan oleh tangan-tangan besar yang mengerti: selalu ada kemolekan, juga keteraturan, dalam kekacauan.

Dua dari tiga mesin perahu dimatikan. Bunyinya yang menggempur kupingmu selama berjam-jam (ton-ton-ton-ton!) jadi lebih jarang, lemah, dan menimbulkan kesan yang menentramkan, seperti ketukan metronom.

Sayup-sayup, kau mendengar Charles Trenet bernyanyi: La mer, qu’on voit danser le long des golfes clairs….

Pagi di Pulau Biawak adalah pagi yang membuat Arlian sanggup berkata: “Misalkan Jawa meledak dan tenggelam, dan kita selamat, aku tidak keberatan tinggal di sini.”

“Aku keberatan,” katamu. “Di sini cuma ada laki-laki.”

“Nanti kita bisa menjemput gadis-gadis dari Madura atau Kalimantan atau Sulawesi.”

“Tetap keberatan, aku masih membawa uang kantor.”

Ia tertawa, mungkin karena iba, tetapi kemudian bicara lagi: “Bisa tidak kau tak berpikir soal pekerjaan sampai jam dua siang saja?”

Kalian memutuskan untuk berenang. Di pantai-pantai di tempat asalmu, kau hanya perlu berjalan sepuluh meter dari garis ombak buat menemukan perairan yang cukup dalam buat berenang, sedangkan di Pulau Biawak cara itu berisiko merusak karang dan membuat telapak kakimu lecet-lecet. Namun, untuk berjalan terlalu jauh ke arah laut, kau tak berani. Jangan-jangan, pikirmu, begitu memasuki perairan yang agak dalam, kau bakal langsung tergulung arus bawah.

Pagi itu kalian mengapung-apung hanya sejengkal di atas karang, terpanggang matahari, tertawa-tawa (kalian mengira Pak Nelayan sedang merancap di air dan ternyata ia cuma mencuci perahunya), dan kau tak bisa mengusir pekerjaan dari benakmu.

Selang beberapa jam, adik sekaligus anak buah Pak Nelayan menjala ikan-ikan kecil dan menjadikan mereka umpan biawak. Tiga ekor biawak terpancing. Arlian, yang baru belajar menggunakan kamera pagi itu, memotret dan merekam dari pelbagai sudut, termasuk yang memaksanya merangkak-rangkak, sampai daya baterai kamera itu kering.

Setelah umpan habis dan pengambilan gambar selesai, kadal-kadal bengak itu masih menguntit kalian. Barangkali, bagi mereka, kalian adalah dua ikan asin raksasa.

Itu hari yang menyenangkan. Tetapi bagian terbaiknya, menurutmu, bukanlah saat kau berenang atau mengusik biawak, melainkan berdiri di puncak mercusuar–65 meter dari permukaan tanah dan kau memandangi rumpun bakau, sungai yang membelah pulau dari utara ke selatan, rumpun cemara, rumpun pohon bersulur yang ditinggali bangau-bangau, rumpun pohon-pohon mati, pantai, pantai, pantai.

120 hektare pulau plus laut yang mengelilinginya terlihat seperti kanvas agung yang disapu dengan satu sekaligus banyak warna: Hijau.

Kau tak menyukai ketinggian, sebenarnya. Namun, jarak pandang yang amat luas serta pilihan ekstrem buat tinggal atau melompat, membuatmu merasa sedikit lebih besar ketimbang hidup. Kau bilang kepada Arlian dan Taryono, penjaga mercu yang menemani kalian, bahwa kau kepingin “mengencingi pulau dari atas sini.”

Dua puluh tahun lalu, di balkon satu mercusuar lain, kau punya pikiran serupa tetapi tak sampai hati mengatakannya kepada Ibu yang menggandeng tanganmu.

Rutin

Udara retak-retak
disaring daun-daun
dan seseorang meninggalkan
ubannya
di langit.

Rambut pacarku, tipis dan panjang,
tertinggal di bantal.
Kusembunyikan
supaya ia hanya temukan
rambut pendek, rambut kaku,
di lantai kamar dan kolong tempat tidurku.

“Kau perlu ganti sampo,” katanya.
Aku mengangguk

Dari balik kaca
pada 05:47

Udara retak-retak
disaring daun-daun
dan di langit
ada seikat uban
menyerupai
ekor awan.