Reportase

Hanya kaktus dalam pot
di atas pagar balkon
dan celana pendek
terjulai dari paku.

Hanya kasur cekung
mirip bekas galian
terbungkus seprai berkerak
mani dan abu rokok.

Hanya buku-buku,
kuning dan melengkung,
dalam satu koper Polo
dan kardus-kardus lapuk.

Hanya kursi kayu
patah kaki
terbaring di lantai—

“Pegang saja,”
kata seorang polisi,
“tapi jangan pindahkan.”

Terbenam dalam Waktu yang Hilang

Kalian tiba di Stasiun Jatibarang, Indramayu, menjelang pukul sepuluh pagi. Langit seperti kertas buram. Udara kering dan panas. Debu naik dan turun dan membungkus apa saja yang dapat dijangkaunya: barisan sepeda motor di lapangan parkir, mentimun yang menyembul dari karung-karung di pasar di seberang stasiun, manusia yang berlalu-lalang, daun-daun.

Dua pria dengan muka kepuh menghampiri kalian. Salah seorang dari mereka, yang berbadan kecil, gondrong, dan punya borok di kupingnya, sampai lebih dulu. Ia mengembuskan asap rokok lewat celah lebar di antara dua gigi taringnya. Seorang lagi, yang jangkung dan mengenakan jaket kulit, mendekati kalian sambil merogoh saku belakangnya.

Kau melap keringat di keningmu, lalu menggeser kaki kananmu ke belakang.

“Kalau kemarin kau tidak menawarkan diri buat ikut,” katamu kepada Arlian, “aku mau membawa pisau sebesar lengan anak-anak.”

Pria berjaket kulit itu berhenti dan menyisir rambut. “Ojek, Mas?” tanyanya. Dan kawannya, yang kelak akan diceritakan oleh Arlian, cuma prengas-prenges.

Rupa-rupa pemandangan berlintasan, tetapi kau hanya bisa melamunkan apa-apa yang kau mungkin tuliskan tentang Pulau Biawak, tempat tujuanmu, sampai bau asin payau, tanda bahwa laut sudah dekat, menyadarkanmu tiga puluh menit kemudian.

Setelah makan siang dan menimbun bekal dan membikin janji dengan kedua tukang ojek untuk menggunakan jasa mereka lagi saat kalian kembali ke Indramayu, kalian berangkat dari Pelabuhan Karangsong. Jam menunjukkan pukul dua. Nelayan yang mengantar kalian memberitahu bahwa di depan ada jalan air sejauh 41 kilometer dan pelayaran akan makan waktu selama empat jam.

“Mantap,” teriak Arlian sambil merentangkan tangannya. Rambutnya berkibar seperti samanera. Kau melindungi matamu dari sinar perak yang dipantulkan ombak Laut Jawa.

Empat jam di laut tanpa sinyal ponsel dan ketenangan yang diperlukan buat mengobrol atau membaca buku jelas tak menyediakan banyak pilihan. Arlian berbaring, terpejam, dan membiarkan kakinya yang melintang di atas dinding kanan perahu basah sebatas paha. Kau menggeser dudukmu ke tengah, berharap di tempat itu guncangan lebih jinak, dan mulai melamun lagi.

Kau pernah membaca tentang seorang Kaisar Jepang yang disingkirkan ke sebuah pulau terpencil pada abad ke-13. Sepanjang pelayarannya, kau kira, ia tak mengenang perebutan kuasa yang menjadi sebab pengusiran itu, melainkan kilasan-kilasan menyenangkan dari seluruh hidupnya: bunga-bunga yang mekar di halaman istana, anak panah pertamanya yang mencapai sasaran, surai kuda kesayangannya yang dikibas angin. Semua melintas, saling susul, berjalinan.

Memori, pikirmu, benar-benar menakjubkan. Tanpanya hidup seseorang cuma sekarang, dan sekarang kelewat sering tak tertanggungkan. Dengan ingatan, seseorang dapat memanggil kembali (atau dikunjungi oleh) saat-saat yang menenteramkan. Dengan ingatan, kau dapat mengabaikan pikiran-pikiran buruk (perahu ini bakal dihantam ombak besar sampai terbalik dan kau akan mati dan dimakan ikan-ikan, sedangkan teman-teman seperjalananmu berhasil menyelamatkan diri).

Ingatan membawamu ke sebuah ruang yang bersih, terang, penuh buku—jauh dari ombak yang membuat perahumu oleng ke sana kemari. Kau mendengar dengung halus mesin pendingin udara, bisik-bisik dua perempuan dari meja di belakangmu, bunyi kertas yang digores pena. Kau mencium bau mirip es krim vanila. Kursimu keras, tetapi kering dan hangat.

Ada buku terbuka di antara kedua tanganmu, sebuah novel. Peristiwa-peristiwa di dalamnya bergerak maju-mundur, dari momen ke momen, dan cerita bergerak dengan berayun pada sulur-sulur halus tema dan motif.

Waktu seakan tak berkesinambungan. Ingatan-ingatan penutur novel itu bermunculan secara acak, tiba-tiba, mengejutkan. (Suatu kali, ia menguraikan bagaimana ingatannya tentang kampung halaman—bunga-bunga taman, lili air, gereja paroki, orang-orang dusun yang ramah—bermekaran dari secangkir teh setelah ia mencelupkan sepotong kue kering ke dalamnya dan memakan kue itu).

Kau menjentikkan puntung rokokmu ke laut.

Dari jarak 100 meter, Pulau Biawak terlihat seperti hutan yang terapung. Mungkin karena itulah ia pernah dinamai Pulau Bompis (boompjes berarti pepohonan dalam bahasa Belanda). Di bagian mukanya ada sebuah dermaga beton yang dihinggapi puluhan camar putih, dan agak ke belakang, sebuah mercusuar menjulang sendirian, jauh lebih tinggi ketimbang pohon-pohon, dan tampak menggentarkan dalam lindungan kerangka baja.

Laut dangkal dan jernih. Terumbu karang dan ikan-ikan dengan pelbagai motif dan warna seakan-akan ditebarkan oleh tangan-tangan besar yang mengerti: selalu ada kemolekan, juga keteraturan, dalam kekacauan.

Dua dari tiga mesin perahu dimatikan. Bunyinya yang menggempur kupingmu selama berjam-jam (ton-ton-ton-ton!) jadi lebih jarang, lemah, dan menimbulkan kesan yang menentramkan, seperti ketukan metronom.

Sayup-sayup, kau mendengar Charles Trenet bernyanyi: La mer, qu’on voit danser le long des golfes clairs….

Pagi di Pulau Biawak adalah pagi yang membuat Arlian sanggup berkata: “Misalkan Jawa meledak dan tenggelam, dan kita selamat, aku tidak keberatan tinggal di sini.”

“Aku keberatan,” katamu. “Di sini cuma ada laki-laki.”

“Nanti kita bisa menjemput gadis-gadis dari Madura atau Kalimantan atau Sulawesi.”

“Tetap keberatan, aku masih membawa uang kantor.”

Ia tertawa, mungkin karena iba, tetapi kemudian bicara lagi: “Bisa tidak kau tak berpikir soal pekerjaan sampai jam dua siang saja?”

Kalian memutuskan untuk berenang. Di pantai-pantai di tempat asalmu, kau hanya perlu berjalan sepuluh meter dari garis ombak buat menemukan perairan yang cukup dalam buat berenang, sedangkan di Pulau Biawak cara itu berisiko merusak karang dan membuat telapak kakimu lecet-lecet. Namun, untuk berjalan terlalu jauh ke arah laut, kau tak berani. Jangan-jangan, pikirmu, begitu memasuki perairan yang agak dalam, kau bakal langsung tergulung arus bawah.

Pagi itu kalian mengapung-apung hanya sejengkal di atas karang, terpanggang matahari, tertawa-tawa (kalian mengira Pak Nelayan sedang merancap di air dan ternyata ia cuma mencuci perahunya), dan kau tak bisa mengusir pekerjaan dari benakmu.

Selang beberapa jam, adik sekaligus anak buah Pak Nelayan menjala ikan-ikan kecil dan menjadikan mereka umpan biawak. Tiga ekor biawak terpancing. Arlian, yang baru belajar menggunakan kamera pagi itu, memotret dan merekam dari pelbagai sudut, termasuk yang memaksanya merangkak-rangkak, sampai daya baterai kamera itu kering.

Setelah umpan habis dan pengambilan gambar selesai, kadal-kadal bengak itu masih menguntit kalian. Barangkali, bagi mereka, kalian adalah dua ikan asin raksasa.

Itu hari yang menyenangkan. Tetapi bagian terbaiknya, menurutmu, bukanlah saat kau berenang atau mengusik biawak, melainkan berdiri di puncak mercusuar–65 meter dari permukaan tanah dan kau memandangi rumpun bakau, sungai yang membelah pulau dari utara ke selatan, rumpun cemara, rumpun pohon bersulur yang ditinggali bangau-bangau, rumpun pohon-pohon mati, pantai, pantai, pantai.

120 hektare pulau plus laut yang mengelilinginya terlihat seperti kanvas agung yang disapu dengan satu sekaligus banyak warna: Hijau.

Kau tak menyukai ketinggian, sebenarnya. Namun, jarak pandang yang amat luas serta pilihan ekstrem buat tinggal atau melompat, membuatmu merasa sedikit lebih besar ketimbang hidup. Kau bilang kepada Arlian dan Taryono, penjaga mercu yang menemani kalian, bahwa kau kepingin “mengencingi pulau dari atas sini.”

Dua puluh tahun lalu, di balkon satu mercusuar lain, kau punya pikiran serupa tetapi tak sampai hati mengatakannya kepada Ibu yang menggandeng tanganmu.

Rutin

Udara retak-retak
disaring daun-daun
dan seseorang meninggalkan
ubannya
di langit.

Rambut pacarku, tipis dan panjang,
tertinggal di bantal.
Kusembunyikan
supaya ia hanya temukan
rambut pendek, rambut kaku,
di lantai kamar dan kolong tempat tidurku.

“Kau perlu ganti sampo,” katanya.
Aku mengangguk

Dari balik kaca
pada 05:47

Udara retak-retak
disaring daun-daun
dan di langit
ada seikat uban
menyerupai
ekor awan.

Nama

Kalau kau beritahukan namamu
aku akan melupakanmu

seperti aku melupakan
Oktober dan Juni,
dinding, udara kering, dan
putih gelombang televisi.

Angin kecil.
Telinga.
Kutukan.

Dan api kuning
menenggelamkan
hidup dari hidupku.

Segalanya terbakar,
segalanya terus terbakar
dalam ingatanku.

Maka yang kuingat namanya
akan hanya kuingat namanya.

Desember dan Juli
jeruk dan kepolosan,
“This is just to say,”
William Carlos Williams.